Berita Rektor

Rektor IAIN : Pembatalan haji bentuk pedulinya pemerintah bagi warga

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd, di Palu, Rabu menilai kebijakan pemerintah membatalkan keberangkatan jamaah haji tahun 2020, sebagai bentuk kepedulian yang tinggi untuk melindungi masyarakat dari bahaya virus corona jenis baru COVID-19.

“Keputusan Menteri Agama menunjukkan bahwa Pemerintah dalam hal ini Kemenag sangat memperhatikan kesehatan dan keselamatan jamaah haji,” ucap Prof Dr H Sagaf Pettalongi.

Menteri Agama Fachrul Razi telah membatalkan keberangkatan jamaah haji tahun 2020 lewat keputusan nomor 494 tahun 2020 tentang pembatalan keberangkatan jamaah haji pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1441 hijriah/2000 masehi.

Menurut Prof Sagaf, pembatalan keberangkatan ibadah haji dengan pertimbangan keselamatan dan kesehatan, tidak bertolak belakang dengan syarat dan rukun haji itu sendiri, yakni istitha’ah yaitu orang yang wajib haji harus memiliki kesanggupan lahir dan bathin.  Kesanggupan disini termasuk dalam kategori sanggup menjamin keselamatan jiwa dan raga dari berbagai ancaman terhadap jiwa.

“Belum ada kepastian mengenai kapan berakhirnya COVID-19,  karena itu keselamatan jamaah haji tentu menjadi prioritas utama. Apalagi Pemerintah Arab Saudi juga belum memberikan kepastian/membuka akses melaksanakan ibadah haji,” ujarnya.

Prof Sagaf mengemukakan ada hikmah yang dapat dipetik oleh masyarakat khususnya umat Islam, terkhusus buat jamaah calon haji yaitu penundaan pelaksanaan ibadah haji ini dapat dipahami bahwa Allah belum memberikan kesempatan (belum memanggil). Sebab, ibadah haji adalah panggilan Allah.

Selain itu, dengan adanya pembatalan tersebut jamaah calon haji lebih bisa atau lebih memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin.

“Melaksanakan ibadah dalam Islam dibutuhkan kesabaran, ashabru ala thaati Allah. Termasuk dalam ibadah haji. Dengan begitu, para calon haji perlu bersabar karena tertunda, artinya sedang  diuji apakah ketaatannya pada Allah dalam kondisi-kondisi tertentu,” urai Prof Sagaf.

Ia menambahkan, para calon haji perlu mengetahui bahwa dalam Islam setiap kejadian dan peristiwa pasti ada hikmah dibalik-nya.

“Kita belum tahu apa hikmah dibalik penundaan ini. Tentu setiap orang maupun negara akan mengambil  hikmah dibalik penundaan ini,” ujarnya.

Sumber : Humas IAIN Palu